Photobucket
PhotobucketPhotobucket

Rabu, 06 April 2011

Perjuangan berakhir Air mata - - -> part 12

PBA part 12: Sayatan Tipis

Sudah lebih dari 30 menit ozy menunggu. Dia merasa bosan dan ozy berdiri meneliti beberapa bingkai foto yang tertempel didinding. Tapi tidak ada wajah rio, sangat aneh menurut ozy.

Ozy mendengar ada orang yang membuka pintu dan…

“RIO” batin ozy

“akhirnya ketemu juga tuh anak” batin ozy yang melihat rio berjalan menuju tangga dan masuk kedalam salah satu kamar

Tapi tadi sepertinya rio sempat melihat ozy, tapi kenapa rio tidak menyapa atau sekedar tersenyum kepada ozy. Shilla sesekali menatap adiknya yang terlihat bingung, ozy memang memiliki rasa ingin tau yang sangat tinggi. Tapi shilla baru menyadari itu. Shilla melihat sepertinya ozy bercita-cita menjadi detektif, gerak-geriknya yang mencurigakan selalu membuat shilla bingung.

“zy” panggil shilla akhirnya, ozy yang dari tadi menatap kamar yang baru saja dimasukin rio terperangah dengan panggilan kakaknya, ozy menatap shilla

“iya kak” jawab ozy singkat, kini ozy sibuk mengamati beberapa barang dirumah itu, layaknya sedang tidak terjadi apa-apa.

“sini aja napa, ntar loe ilang gue yang repot” canda shilla yang membuat sivia terkekeh kecil, sedangkan ozy hanya melengos dan kembali duduk dikursi sebelumnya

“via, gue boleh nanya-nanya sedikit gak? Kalau gak juga gak apa-apa” senyum shilla, sivia yang asik menulis kini menatap shilla heran

“tanya apa shil” sivia focus menatap shilla dan ozy bergantian, disini ozy hanya sebagai pendengar

“hmm.. anuuu.. tadi gue lihat ada anak cowok yang masuk…” shilla menarik nafas

“siapa via, kok gue gak pernah lihat?” tanya shilla akhirnya

“tau aja loe kak pikiran gue” batin ozy

Sivia sempat melamun beberapa menit. Shilla merasa tidak enak telah menanyakan hal itu dan merasa bersalah. Mungkin cowok itu yang dimaksud ozy.

“maaf vi, kalau loe belum bisa cerita gak apa-apa kok” jelas shilla, tiba-tiba air mata menetes dari mata sivia dan membuat shilla dan ozy bertambah heran. Siapa rio sebenarnya, apa hubungan rio dengan sivia, kenapa sivia tidak mau membicarakan masalah rio, itulah mungkin beberapa pertanyaan yang kini muncul dibenang ozy.

“maaf yah shil” ucap sivia masih dengan isakan tangisnya, shilla hanya tersenyum dan membereskan beberapa bukunya. Mungkin sivia membutuhkan waktu sendiri.

“zy, ayo kita pulang nanti kemaleman gak enak” ucap shilla dan tersenyum kearah sivia. Ozy hanya menganggung dan berjalan kearah pintu. Lagi-lagi ozy menatap kamar yang baru dimasukin rio.

***

15 menit setelah ozy dan shilla pulang. Cowok yang masuk kedalam kamar itu keluar dan menatap sinis sivia. Sivia segera menghapus airmatanya.

“temen loe?” ucap rio dengan nada yang tidak enak, sivia hanya mengangguk dan kembali menghapus airmatanya.

“cengeng amat jadi cewek” ucap rio sinis. Rio berjalan kearah dapur dan mengambil segelas airputih. Lagi-lagi rio harus berpas-pasan dengan sivia.

“yo” panggil sivia pelan dan lembut

“maaf, gue mau nanya, loe masih bimbel?” tanya sivia pelan

“apa urusannya dengan loe” bentak rio yang masih memegang satu gelas air putih

“maaf” ucap sivia

“nggak ada kata-kata lain selain MAAF” ucap rio dengan penekanan maaf

“papa nyuruh gue nanya’in masalah ini ke elo” jawab sivia dan kini menunduk tak berani menatap rio

“papa..? inget yah, dia itu papa loe bukan papa gue” bentak rio dan pergi meninggalkan sivia yang kini kembali menangis

***

Malam yang sangat dingin sama halnya dengan tubuh seorang gadis yang baru saja menangis. Tubuhnya terasa dingin, banyak sekali airmata yang menumpuk dibadannya. Ingin rasanya dia keluarkan semua. Setiap hari dia selalu menghindar dari laki-laki yang selalu membuatnya menangis.

Sivia menyayangi rio, sayang sebagai saudara. Tapi kenapa rio seperti menolak kehadirannya dan papanya. Papa sivia kan papa rio juga. Tapi tidak menurut rio. Papa sivia yah papa sivia, bukan papa rio. Papa rio sudah meninggal setahun yang lalu. Yah bisa dibilang baru, mungkin rio belum bisa menerima kehadiran orang baru dirumahnya. Sivia dan papanya.

Papa sivia, dan kedua orangtua rio sudah berteman sangat dekat. Tapi sivia dan rio tidak, mereka bahkan tidak mengenal satu sama lainnya. Sivia dan rio baru kenal setelah insiden papa rio meninggal. Papa rio meninggal karena mencangkokkan sumsum belakang untuk sivia. Tapi semua tidak berjalan sesuai rencananya, yah walaupun sivia selamat dan operasi pencangkokan berhasil tapi papa rio harus meninggal. Papa rio sempat kritis selama seminggu.

Saat kejadian itu rio sedang diluar negri, liburan bersama temannya. Rio kaget mendapat kabar papanya meninggal. Rio mengetahui kalau papanya meninggal karena sivia, mulai saat itu rio berjanji akan membenci sivia. Rio semakin membenci sivia ketika mendapat kabar mamanya akan menikah dengan papa sivia. Rio sempat memberonta tapi ucapannya tidak didengar, pernikahan itu terjadi sampai sekarang.

“gue benci sama loe sivia, loe, bokap loe semua keluarga loe bakal gue bunuh satu persatu, loe harus ngerasa’in penderitaan yang gue rasa’in” batin rio lirih, tatapan rio saat itu susah ditebak. Tidak ada yang berani bicara dengannya.

Mama rio saat ini ikut papa sivia kerja keluar kota, jadi yang mengawasi mereka hanya pembantu yang ada dirumah. Semua pembantu nggak ada yang berani dengan rio kalau dia sudah marah.

Rio pernah putus sekolah selama satu tahun. Jadi dia harus mengulang dari kelas 3 SMP dan ikut bimbel ditempat debo mengajar. Rio menjalani sekolah dengan malas dan bimbel dia lebih sering bolos, tentunya tanpa sepengetahuan sivia dan papa sivia.

***

“maafin gue yo” isak sivia lirik dan mencoba menghapus air matanya

Airmata sivia trus saya membanjiri wajah chubby nya. Ingin rasanya sivia teriak, kenapa Tuhan harus memberikan cobaan seberat ini.

“via gak sanggup,,, hikss” lirih via masih dengan isakan tangis

Sudah 30 menit sivia menangis dibukit. Bukit memang tempat favorit sivia. Awal sivia mengenal bukit karena rio, yah karena rio telah membentak dan mengusirnya dari rumah. Sivia bingung harus kemana, Sivia menurut setiap langkah kaki membawanya entah kemana. Sampai di bukit yang sangat cantik kaki ini berhenti melangkah. Sivia terkagum-kagum melihat ciptaan Tuhan, masih ada hal seindah ini didunia, ku pikir hanya ada disurga. Dan semenjak saat itu setiap dia bertengkar dengan rio, sivia pasti lari kebukit.

“bertengkar lagi” ucap seorang laki-laki yang membuat sivia kaget dan menghapus airmatanya

“ini hapus airmata loe” ucap laki-laki itu lagi dan menyodorkan sapu tangan kearah sivia

“gue heran, setiap loe kesini pasti ujung-ujungnya nangis, lama-lama yah nih bukit bisa banjir sama airmata loe” canda laki-laki

“…” tak ada respon dari sivia, tertawa atau sekedar tersenyum kecilpun tidak

Sivia kembali menatap bintang dan lebih memilih berbaring direrumputan dari pada mendengar ocehan laki-laki yang baru dia kenal. Laki-laki itu menatap lekat wajah sivia, terlihat banyak beban terpancar diwajah sivia. Laki-laki itu ikut berbaring disamping sivia dan ikut menatap bintang.

“gue kangen sama mama gue” ucap laki-laki itu yang masih berbaring direrumputan sambil memejamkan mata

“gue kangen pelukan hangatnya, walaupun gue udah gede tapi gue gak malu kalau harus meluk mama gue didepan umum”

“gue juga kangen ocehan mama, omelan mama kalau gue nakal, kadang mama juga sering ngehukum gue”

“arrrgg, gue kangen mama” teriak laki-laki itu yang kini dengan posisi duduk dan mata terbuka, dia melihat gadis disampingnya

JDERRRRRRRRRRRRRRRRRRRR

“capek-capek gue cerita, nih cewek malah tidur” laki-laki itu kesal dan kembali tidur disamping digadis itu

***

Pagi yang cerah, matahari bersinar dengan silaunya. Dan membuat siapapun mendapatkan pancarannya akan segera terbangun dari pagi ini.

“hoaaaammmm” sivia menguap cukup lebar, sivia mengerakkan beberapa tubuhnya kekiri dan kekanan, yah layaknya orang senam

“sudah bangun loe” ucap laki-laki membawa satu bungkusan, dia jalan mendekati sivia

“loe siapa?” tanya sivia heran

“hah?” ucap laki-laki itu heran

“kok hah” sivia ikut heran

“loe nggak nyadar kalau dari tadi malem gue udah dia disamping loe?” tanya laki-laki itu mendelik, sedangkan sivia hanya menggeleng.

“Ya Tuhannnnnn, jadi tadi malem gue cerita sama siapa?” tanya laki-laki itu, sivia hanya mengangkat bahu.

“sudahlah lupakan, nih loe sarapan dulu” ucap laki-laki itu dan memberikan satu bungkus makan kepada sivia

“thank’s” jawab sivia, laki-laki itu hanya tersenyum.

Sivia sarapan dengan lahap.

“bushetttt,, cantik-cantik tapi rakus yah loe, wajar aja tuh pipi gembung, loe ngemut biji duren yah ampe tuh pipi segembung itu” ucap laki-laki itu yang sedang menatap sivia makan dengan lahapnya

BYURRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR

Sivia sontak menyemburkan makanan yang masih dimulutnya ke muka laki-laki itu, dan tepat sasaran.

“idihhhhhhhh,, gilaaa,, jorok loe” ucap laki-laki itu emosi dan membersihkan mukanya dengan air

“sudah makannya” tanya laki-laki itu, sivia hanya mengangguk

“thanks dan maaf” ucap sivia singkat

“dingin banget nih cewek, ngelebihin gunung es antartika aja”gumel laki-laki itu

“kenapa?” tanya sivia yang mendengar gumelan laki-laki

“ohh,, nggak” jawab laki-laki itu terbata

“ohh iya, nama loe siapa?” tanya laki-laki itu

“sivia” jawabnya

“loe nggak pengen tau nama gue?” ujar laki-laki itu PD

“nggak perlu” ucap sivia singkat dan membuat laki-laki itu kesal 7 keliling

“ngeselin banget nih cewek, tadi malem gue cerita dia malah molor, pagi nih gue beli’in sarapan malah disembur kemuka gue, eh sekarang dia udah buat gue malu tujuh turunan (?)” batin laki-laki itu bete

“loe, gue tinggal nggak apa-apa yah, gue mau sekolah masalahnya” kata laki-laki itu, sedangkan sivia kembali hanya mengangguk

“arrrgghh,, senyum kek, say hai kek, gak bisa kali yah tuh cewek selain ngangguk” batin laki-laki itu dan pergi meninggalkan sivia sendiri dibukit

***

“kak lama banget sih” bete acha

“loe jangan bikin gue tambah bete deh cha, ayo buruan naik atau gue tinggal” ancam Alvin yang baru datang menjemput acha dirumah, Alvin tadi pamit mau keluar sebentar kepada acha.

“kok jadi kak Alvin yang marah-marah sih, harusnya kan gue” batin acha bete dan naik kemotor Alvin

***

Rio tampak kusut, dengan dadanan yang berantakan. Yah setelah pertengkarannya dengan sivia semalam, dia menjadi tak karuan. Walaupun tiada hari tanpa bertengkar dengan sivia, tapi entah kenapa dia sangat merindukan sosok sivia. Sosok seorang adik. Rio berjalan trus dan langkahnya terhenti di penjual es krim.

“bang es krim rasa coklatnya satu” ucap rio singkat

“saya juga bang” ucap gadis berambut pendek yang kini disebelah rio menunggu giliran es krimnya, rio memandang sekilas gadis itu, sedangkan gadis itu hanya mengembangkan senyum yang tipis kepada rio.

DEGGGGGGGG

“kalung itu” batin rio

Gadis berambut pendek itu memiliki kalung yang sama dengan rio. Inisial AR pada gadis itu dan RA pada rio. Gadis berambut pendek itu menatap rio heran. Rio masih focus menatap kalung itu, rio semakin mendekat, dann….

PLAKKKKKKKK

“jadi cowok jangan kurang ajar dong” ucap gadis itu dan pergi meninggalkan rio yang kini ditatap heran semua pengunjuk taman

Rio merasakan pipinya sangat panas. Yah gadis itu menampar rio cukup keras. Mungkin semua gadis akan melakukan hal yang sama kalau ada cowok yang menatapnya dengan tatapan aneh dan hendak menyentuhnya. Padahal saat itu rio hanya ingin memastikan kalau kalung yang dipakai gadis itu benar milik gadis masa lalunya.

***

Debo, ify, gita, cakka, agni, dan obiet melaksanakan belajar kelompok bersama. Yah sebenarnya agni dan gita ingin menolak tapi semua ini sudah keputusan bapak wali kelas. Lagi-lagi mereka belajar kelompok dirumah debo dan ify.

Kenapa harus dirumah mereka, arrrgghh kenapa gue harus kenal loe de. Itu lah gerutu kesal yang gita alami sekarang. Sedangkan agni, dia harus terus-terusan berantem dengan cakka, ditambah hari ini dia bertemu dengan cowok aneh bin ajaib.

“nggak punya otak tuh orang kali yah” gerutu agni yang baru datang dan duduk ditengah-tengah cakka dan obiet.

“loe kenapa nyet?” tanya cakka dengan wajah tak berdosa memanggil agni dengan sebutan nyet

“loe bilang gue apa?” tanya agni emosinya semakin memuncak

“nyet, emang kenapa..?? salah..?? loe emang mirip monyet kok”

“coba loe bilang lagi” tatapan agni tajam menatap cakka

“nyet nyet nyet, lagian loe baru datang, bukannya ngucapin salam malah ngucap-ngucap gak jelas gitu” jelas cakka tak kalah tajam tatapannya

“gue lagi bete cakka, jadi loe jangan ikut campur deh” agni sedikit menjauh dari cakka dan obiet

“trus kalau loe bete, apa urusannya sama gue, dan siapa juga gak mau ikut campur” jawab cakka, obiet yang dari tadi panas mendengarkan pertengkaran cakka dan agni lebih memilih menjauh.

***

Gita yang melihat agni menggerutu dari tadi mencoba mendekat. Kini gita sudah duduk disebelah agni.

“kenapa ag, loe ada masalah?” tanya gita lembut

Agni mencoba menenangkan dirinya dengan cara menarik nafas pelan. Dia mulai menceritakan kejadian hari ini, saat dia harus bertemu dengan cowok yang super duper aneh dan tidak punya sopan santun. Gita mendengar dengan seksama, dan cakka diam-diam juga mendengarkan.

“ehh, loe nguping yah?” tegur agni yang melihat gerak-gerik cakka yang aneh

“ogahh,, ngapa’in gue nguping, gak banget” ucap cakka dan kini sibuk mencatat beberapa catatan dari buku obiet, sedangkan obiet entah kemana.

Agni kembali menceritakan kejadian buruk yang dia alami hari ini. Saat cowok aneh itu menatap lehernya dengan aneh.

“leher loe? Coba gue lihat” gita memeriksa leher agni.

“mungkin kalung loe ag, apa mungkin dia mau nyuri kalung loe?” tanya gita

“kalung?” agni heran dan meraba lehernya, benar ada kalung disana. Tapi sejak kapan kalung ini ada dileher agni.

“sejak kapan gue pake kalung?” tanya agni

“lah, mana gue tau ag, kan yang pake loe” jawab gita heran

“udah stress, gila lagi” kata cakka yang masih sibuk menulis

“loe ngeledek gue” ucap agni dengan nada sedikit marah

“loe ngerasa gak?” tanya cakka santai

“ya nggak lah” jawab agni

“ya sudah jangan marah” kata cakka

Gita mencoba menenangkan agni. Sudah sekitar satu jam gita dan agni hanya diam. Sedangkan debo, ify, obiet dan cakka sibuk dengan pelajaran yang sedang mereka bahas. Gita enggan kalau harus bergabung dengan debo dan ify. Gita nggak mau perasaan itu muncul lagi, bahkan kalau bertambah parah.

Debo dan ify tampak semakin asik mengerjakan pelajaran itu, terkadang debo mengacak-ngacak rambut ify, kadang debo mencubit pipi ify. Gita semakin panas, dia tidak sanggup kalau harus seperti ini.

***

Obiet enggan bergabung dengan cakka dan agni yang sedang adu mulut sekarang. Dia lebih memilih pergi dan menghampiri oik yang sedang asik menonton tv dengan susu coklatnya. Oik tampak asik menonton tv, sampai-sampai tidak menyadari kehadiran obiet yang sudah ada disampingnya.

“ehemmm” obiet bedehem, tapi oik masih saja asik menonton tv dan sesekali meneguk susu coklatnya

“ehemmm ehemm” dehem obiet dua kali dan lebih kuat tapi tetap diacuhkan oik

“ik” obiet mencoba dengan memanggil nama oik, tapi tetap sama, oik tak bereaksi, matanya masih menatap layar tv dan sesekali tersenyum melihat tingkah laku dilayar televisi itu.

Obiet mulai bete dan lebih memilih pergi meninggalkan oik, kembali keposisi awal semua, bersama agni dan cakka. Agni dan cakka masih saja adu mulut gak penting.

“hahahahahhha” tawa oik pecah, obiet segera menoleh, ternyata oik tertawa karena melihat kartun yang sedang dia tonton.

***

Gadis manis bernama acha sedang asik mengotak-ngatik handphone miliknya, terkadang dia senyum-senyum menatap layar handphonenya. Alvin menatap acha curiga, dia masih kesal dengan insiden kejadian kemarin. Saat dia harus bertemu cewek super duper dingin, melebihi gunung es antartika.

“loe kenapa cha? Loe sehat kan?” Alvin duduk disamping acha dan memegang kening acha.

“gak panas” ucap Alvin singkat

“apa’an sih kak” dengan cepat acha menepis tangan alvin

Terdengar ada suara ketuk pintu, acha dengan cepat membukanya. Acha senyum sumringah ketika melihat siapa yang datang. Siapa lagi kalau bukan ozy. Yah walaupun mereka belum resmi jadian.

“masuk zy” ajak acha, Alvin yang dari tadi dibelakang acha angkat bicara

“ngapa’in loe kesini?” tanya Alvin ketus

“ehh calon kakak ipar ganteng” rayu ozy dengan senyum khas miliknya

“kakak ipar? Loe punya SIM gak?” tanya Alvin masih dengan nada ketus

“SIM? Belum lah kak, kan aku masih SMP” jawab ozy

“bukan SIM “surat izin mengemudi” tapi “SURAT IZIN MEMACARI” jawab Alvin masih dengan nada ketus

“dimana buatnya kak?” tanya ozy polos

“sama gue” jawab Alvin ketus

“ya udah, yok kita buat kak” ajak ozy polos dan menarik tangan Alvin, dengan cepat Alvin menepisnya

“eitss, gak sekarang, loe belum memenuhi kriteria, lebih baik loe pulang aja” suruh Alvin

“tapi kak” acha mulai tidak terima dengan sikap Alvin

“gak ada tapi-tapi, sekarang loe OZY MINGGAT dari rumah kita” usir Alvin

“kakak loe kenapa cha?” bisik ozy

“obatnya habis kali zy” bisik acha

“ehhh pake bisik-bisik, ohh mau ditambah, okeh, selama SATU BULAN, loe nggak boleh kerumah acha” kata Alvin

“kakak” teriak acha gak terima dan masuk kekamarnya, ozy yang bingung harus berbuat apa lebih memilih pulang dengan muka sendu

***

Lintar sedang bingung. Dia mau mengajak nova jalan tapi dia takut kalau nova akan melemparkan seribu alasan untuk menolak ajakannya. Dia mencoba buang rasa takut itu dan mengetik beberapa huruf dan mengirimnya.

From : lintar

“Nov, lagi apa? Sibuk gak? Jalan yuk”

Nova yang dari tadi sibuk dengan buku-bukunya mencoba mengalihkan perhatian dan mencari handphonenya yang baru saja berbunyi.

“lintar” batin nova ketika melihat siapa pengirim sms itu.

“haduh, gimana nih, bukannya gue gak mau tapi hari ini kan gue sudah janji sama acha buat nginap dirumah dia” batin nova kebingungan.

Tiba-tiba lintar meneleponnya. Yah mau nggak mau nova harus mengangkat.

“nova” kata lintar diseberang sana

“iya kenapa lin?” tanya nova

“loe sudah baca sms gue?”

“hmm sudah, tapi maaf lin, hari ini gua sudah janji sama acha mau nginap dirumah dia” jelas nova

“oo” wajah lintar berubah sendu

“maaf yah lin”

“iyaa, sudah yah va, bye” lintar mematikan handphonenya tanpa menunggu jawaban dari nova

***

Ray, deva dan keke jalan-jalan ke mall.

“yah Cuma bertiga aja, gak asik nih” keluh keke

“mau gimana lagi, nova nginep dirumah acha, ozy mau ngapelin acha, yah tinggal kita bertiga” ucap ray

“iya nih, bosen gue mau ngapa’in” keluh deva

Mereka bertiga mengedarkan pandangan keseluruh penjuru mall.

“siapa tuh” batin deva ketika melihat gadis cantik bersama ayahnya sedang ditoko gitar

“lah, itukan afifah” batin deva terkejut ketika melihat siapa orang yang baru saja dia lihat.

Afifah adalah teman SD deva, dan bisa dibilang cinta monyet deva juga.

“eh gue kesana dulu yah”ucap deva meninggalkan ray dan keke berdua

“eh tapi” belum sempat ray menjawab deva sudah jauh

Ray meneliti arah deva pergi, dan deva berhenti ditoko gitar dan langsung ngobrol dengan gadis cantik yang ada dihadapan deva saat ini.

“cantik” batin ray dan ikut ketempat deva

“yah yah, kok gue ditinggal sih. Aaaa rese nih kalian berdua” keke sebel dan ikut kearah deva dan ray berada.

***

Sudah satu minggu sivia tidak pulang kerumah. Dan rio juga tidak peduli, walaupun terkadang dia merasa perbuatannya sungguh keterlaluan tapi rasa sakit yang rio rasakan dulu tidak sebanding dengan rasa sakit yang sivia alami sekarang.

Rio merasa ada yang mengetuk pintu. dan benar saja papa sivia dan mamanya baru pulang. Rio tidak menyambut bahkan tidak menyapa orangtuanya, rio kembali sarapan dengan roti yang sudah tersedia dimeja.

“rio, kamu nggak kangen sama mama?” tanya mama dan berjalan mendekati rio dan mencium kening anaknya yang sudah sangat lama dia tinggalkan

“masih ingat rio?” ujar rio miris

“maksud kamu apa sayang?” tanya mama rio yang mulai tidak mengerti dengan jalan pikiran rio. Rio beranjak dari duduknya dan sekarang menghadap papa sivia

“GUE BENCI SAMA LOE”teriak rio dan menunjuk papa sivia tiba-tiba

“riooo kamu kenapa..?? dan mana sivia…??” tanya mama rio yang bingung sama sikap rio saat ini.

“yoo,, mama nanya sivia mana?” tanya mama rio, terdengar sedikit isak tangis dari mama rio

“yo,, jawab nak, sivia mana?” tanya mama rio lagi

“GUE GAK TAU DAN GUE GAK PEDULI” teriak rio

PLAKKKKKKK

“kamu sudah keterlaluan rio” bentak papa sivia

“keterlaluan? Siapa yang keterlaluan, anda nyadar yah tuan yang keterlaluan itu anak anda, dia sudah membunuh papa saya dan sekarang merebut mama saya. Senang, pasti senang dia sekarang karena sudah berhasil MENGHANCURKAN keluarga gue” bentak rio tak kalah hebatnya

“rio stop nak” teriak mama rio yang sudah mulai menangis

“DIA ITU ADIK KANDUNGMU” ucap papa sivia akhirnya

“sudah pa” ucap mama rio dengan isakan tangis

“nggak ma, dia harus tau apa yang seneranya terjadi, walaupun sivia bukan anak kandung saya tapi saya gak bisa ngelihat sivia terus-terusan dibuat nangis oleh kakak KANDUNGnya sendiri” ucap papa sivia dan kini mulai menjelaskan kepada rio

>>>>>>>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar